
在手机上保存,获得更好体验
Kulihat noni berkebaya
Hatiku bergetar dibuatnya
Kupanggil namanya pelan
Lewat liang bilik dari depan
Ia tertawa sambil menyulam
Getarkan hati mulutku diam
Bapak bilang"jangan harap,"
"langit bumi, jauhlah jarak!"
"Sadarlah cinta bermata kasta."
"Anak jongos tak bisa setara."
Bukankah lebih mulia kita, pak?
Tanah bapak dirampas paksa
Dijadikan kebun teh milik negara
Padahal warisan nenek kita
Kubuat puisi di daun pisang
Kuselip di pot mawar tua
Esok harinya ia membaca
Dan senyumnya lucuti jiwa
Noniku bagai rembulan
Sebanding lilin-lilin terang
Aku ini hanyalah bayang
Yang hitam tak dihiraukan
Andai dunia tanpa kelas
Hati bisa berdansa bebas
Maka akan kupinang engkau
Dengan cincin dari daun kelapa