Gradasi
Aku bicara cepat, ritme berputar (yo)
Lurus ke depan, nggak membanting arah
Percakapan diam di jalanan basah, (uh)
Nada-nada patah, suara jadi senjata (huh)
Bergeser tipis, bayang warna samar
Pandangan menembus tiap lapisan kelam
Garis tepi berlari, aku dekati lambat
Kau di seberang, aku mengukur jarak
Tepian basah, tapaknya nggak biasa
Aku saling menakar – kau titipkan isyarat
Bau aspal, nuansa melekat lekat
Kata-kata berserakan, tak ada yang tepat
Berbisik pada angin, lapisan lenyap
Tapi sesuatu di sana, terus merapat
Di balik langit, ada nada berat
Terlipat, terikat – semuanya terpikat
Berjalan di atas gradasi, tersusun rapi
Tak nampak pasti, ku rangkai misteri
Perjalanan ini, ruang tak berhenti
Tanda-tanda sembunyi, aku cari arti
(ha-ha, masih kau di sana?)
Lembut dan pecah, suara berpadu
Keras, rapat, aku halau ragu
Hati penuh laju, melintasi batas
Kau liat peta – aku tebak arah
Ekspresi berubah, percik pergeseran
Dalam lapisan, rasa tersimpan
Kudekatkan diri, meski jarak semu
Ruang antara kita mengecil perlahan
Cahaya tertahan di lapisan beku
Nada tersirat – aku dan pertanyaan
Duduk di bawah langit, nuansa berlapis
Aku bicara kau dengar bisik: (ss)
Tak pernah utuh, tak pernah habis
Dalam diam, ada bunyi yang manis
Berjalan di atas gradasi, tersusun rapi
Tak nampak pasti, ku rangkai misteri
Perjalanan ini, ruang tak berhenti
Tanda-tanda sembunyi, aku cari arti
(ha-ha, masih kau di sana?)
Terkunci di antara bias, aku tak menilai
Hanya meraba, ruang jadi makna
Bukan sekedar warna, lebih dari tanda
Aku menunggu, kau berikan nyata.