
在手机上保存,获得更好体验
Kulihat malam silih berganti,
wajah yang sama masih menghantui.
Semua luka coba kusamarkan,
Tapi terbuka tanpa perlawanan.
Tak ada tempat tuk sembunyi,
Dari semua yang menyakiti.
Semua terdengar sperti lelucon basi,
Saat semua mencoba memberi .
Kini kutahu siapa diriku,
baik dan busukku jadi satu.
Yang ku ingin hanya bebas,
Tapi hanya diam yang selalu keras.
Tak lagi ku butuh simpati,
Bahkan diri ini tak kumiliki.
Biar kan aku pecah,
Karna pecah adalah rumah.
Aku tahu aku punya batas,
Hanya menunggu semua terlepas.
Tak ada tempat tuk sembunyi,
Dari semua yang menyakiti.
Semua terdengar sperti lelucon basi,
Saat semua mencoba memberi .
Kini kutahu siapa diriku,
baik dan busukku jadi satu.
Yang ku ingin hanya bebas,
Tapi hanya diam yang selalu keras.
Tak lagi ku butuh simpati,
Bahkan diri ini tak kumiliki.
Biar kan aku pecah,
Karna pecah adalah rumah.
Aku tahu aku punya batas,
Hanya menunggu semua terlepas.
Tak perlu bicara,
Aku lelah tanpa nyawa.
Biarlah semua berlalu,
karna peduli tak lagi perlu.
Tak lagi ku butuh simpati,
Bahkan diri ini tak kumiliki.
Biar kan aku pecah,
Karna pecah adalah rumah.
Aku tahu aku punya batas,
Hanya menunggu semua terlepas.
Ooo..ooo..