Di ujung bangku yang sama kita duduk berdua
Namun pikiranmu terbang, entah hinggap di mana
Aku membaca matamu, ada binar yang berbeda
Bukan untukku, tapi untuk dia yang kau puja.
Aku menghafal tawa yang kau beri padanya
Sangat berbeda dengan senyum yang kau bagi untukku
Di sini aku, menjadi saksi paling setia
Melihatmu jatuh cinta, pada jiwa yang bukan aku.
Aku adalah titik yang tak pernah kau tuju
Hanya persinggahan saat kau merasa jemu
Ingin kupeluk erat, tapi kau sudah terikat
Oleh bayang-bayang yang membuatmu terpikat.
Aku mencintaimu sedalam samudera yang tak bersuara
Tapi kau memilih berlayar ke dermaga yang berbeda
Hatiku rumahmu, namun kau hanya ingin bertamu
Sebab di hatimu, hanya ada namanya yang menetap kaku.
Aku mencintaimu dengan cara yang paling patah
Kadang ingin kukatakan bahwa aku pun terluka
Mendengar ceritamu tentang betapa hebatnya dia
Aku menjadi pendengar yang pura-pura tegar
Meski di dalam dada, harapanku perlahan memudar.
Duniaku berputar di sekelilingmu
Sedangkan duniamu, hanya berporos pada dirinya.
Mungkin tugasku hanyalah menjaga bayangmu
Bukan menjadi pemilik dari seluruh hidupmu
Jika esok kau patah hati oleh dirinya
Ingatlah, ada aku yang selalu menunggumu tanpa jeda.
Aku mencintaimu sedalam samudera yang tak bersuara
Tapi kau memilih berlayar ke dermaga yang berbeda
Hatiku rumahmu, namun kau hanya ingin bertamu
Sebab di hatimu, hanya ada namanya yang menetap kaku.
Pergilah... kejar dia yang kau mau
Aku di sini saja, mencintaimu dalam bisu
Cukup aku dan sepi yang tahu...
Bahwa kau adalah luka terindah dalam hidupku