Di balik bangku sekolah yang berdebu,
kutulis namamu diam-diam, tak tentu.
Cuma lihat senyummu dari jauh,
tapi degupnya… kayak mau jatuh.
Pulpen hilang jadi alasan,
buat ngobrol walau cuma sebentar.
Waktu itu cinta belum tahu arti,
tapi rasanya… asli, murni, dan berani.
Ngambek karena chat gak dibaca,
padahal kita belum jadi apa-apa.
Tapi lucu, ya… zaman segitu,
hati segede dunia, padahal cinta masih malu-malu.
Kini kita tumbuh, dewasa katanya,
tapi kenangan itu tetap ada warnanya.
Cinta monyet? Mungkin iya,
tapi dia yang pertama kali ajarkan cara jatuh, tanpa luka.