Persegi sirkus, berputar badut dungu,
Lipstik merah, wajah putih tanpa malu,
Tertawa palsu, penonton penuh haru,
Di balik layar, skenario kelabu.
Lempar pisau, sasar hati tak disengaja,
Topeng senyum, luka dalam tetap menganga,
Gelitik kata, satir tajam menikam dada,
Pelawak terhuyung, batinnya meronta.
Badut terbelah, jiwa hampa tersembunyi,
Di atas panggung, hanya kedok terpamer,
Penonton bersorak, tak tahu hati terluka ngeri,
Satu tepuk tangan, berdarah ribuan kamuflase.
Sketsa buram, tinta hitam gores nista,
Lirikan mata tajam, membedah tiap satir,
Dungu yang tersungging, epilog kisah mistik,
Kepedihan tersirat, tersembunyi di tawa sinis.
Drama panggung, tirai jatuh tanpa suara,
Badut di balik dungu, hatinya tergantung,
Dia menyandar, tembok sunyi merengkuh pilu,
Deras airmata, basahi wajah berpoles jemu.
Menggelak sepi, badut cari makna gigih,
Di balik topeng, menangis tanpa henti,
Di tiap lirik tersembunyi, satire seakan mentari,
Menyinari pekat hati, goresan luka nurani.