(Verse 1)
Petikan gitar temani sepi
Di sudut kamar yang sama
Cerita lama kembali menari
Di pelupuk mata yang basah
Kau putar lagi rekaman usang
Tentang patah yang pernah datang
Kau hafal dialognya di luar kepala
Tapi masih saja kau terluka...
(Chorus)
Bukankah humor yang sama
Tak lagi mampu pecahkan tawamu?
Humor yang diulang-ulang hanya
Menjadi bisik yang membisu...
Lalu mengapa luka yang sama
Kau biarkan terus renggut senyummu?
Jika tawa punya masa kedaluwarsa
Dukamu pun harusnya begitu...
(Interlude Musikal)
(Verse 2)
Halaman buku telah menguning
Kau terus membaca di bab yang sama
Hapal tiap kata yang membuatmu perih
Tapi berharap akhir yang beda
Langit tak pernah janjikan selalu biru
Namun ia tak pernah menangisi hujan yang lalu
Ia biarkan awan pergi berarak
Menyambut pagi yang baru...
(Chorus)
Bukankah humor yang sama
Tak lagi mampu pecahkan tawamu?
Humor yang diulang-ulang hanya
Menjadi bisik yang membisu...
Lalu mengapa luka yang sama
Kau biarkan terus renggut senyummu?
Jika tawa punya masa kedaluwarsa
Dukamu pun harusnya begitu...
(Bridge)
Bukan berarti melupakan
Hanya memilih untuk melepaskan
Beban yang sama di pundak yang sama pula
Hanya akan membuatmu lelah... dan sia-sia...
(Solo Gitar Akustik)
(Chorus)
Bukankah humor yang sama
Tak lagi mampu pecahkan tawamu?
Humor itu sudah usang, percuma...
Suaranya kini membisu...
Jadi biarkan luka yang sama
Menjadi jejak, bukan belenggu
Jika tawa punya masa kedaluwarsa
Sudah waktunya... dukamu berlalu...
(Outro)
Sudah waktunya... dukamu berlalu...
Humor kemarin... sudah tak lucu...