hanya ingin mengeluh, ingin mengutarakan
kepada langit yang, tak pernah menjawab
mengapa takdir kami, tidak ada yang sama
seperti debu, yang di terbangkan angin.
seluruh hidupku, menunggu kesempatan
menjadi benar dan menjadi pilihanmu
dengan tanganmu, yang terbuka lebar
seperti tanah, yang menyerap air.
Tuhan tolong kami, jalannya makin terjal
menaiki tangga yang curam, secara bertahap
hingga langit runtuh, dan kabut menghitam
tetap saja tidak akan, mendapat jawabannya.
bisakah engkau tidak, menunjukan murka
kepada manusia yang, belum memahaminya
warisan masa lalu, terbawa arus deras
menghanyutkan semua, kesadaran mereka.
seluruh hidupku, menunggu kesempatan
menjadi benar dan menjadi pilihanmu
dengan tanganmu, yang terbuka lebar
seperti tanah, yang menyerap air.
Tuhan tolong kami, jalannya makin terjal
menaiki tangga yang curam, secara bertahap
hingga langit runtuh, dan kabut menghitam
tetap saja tidak akan, mendapat jawabannya.
teralis semesta masih tertutup rapat
apakah kami masih memiliki waktu yang cukup?