
在手机上保存,获得更好体验
Yo…
Aptahiya… waap salam…
Lampu padam, panggung hitam…
Tahta bukan emas, cuma debu dari kata manis yang basi.
Duduk di kursi yang warnanya pudar,
Piala di tangan, tapi jiwa getar.
Setiap janji jadi asap di udara,
Kamera nyala, tapi nurani kabur parah.
Uang numpuk, rasa gak tumbuh,
Tawa palsu di meja yang rapuh.
Dulu suara rakyat kau sebut lagu,
Sekarang cuma notifikasi — unfollow you.
Bro… spotlight bisa juga jadi neraka kecil.
Oh Jainudin…
Di tahta yang kelabu…
Kau menatap layar, tapi batinmu beku.
Sorot cahaya membakar wajahmu,
Dan rakyat bernyanyi — bukan untukmu…
Aptahiya… waap salam…
Trap naik, bass berat, flute minor slicing in
808 bergemuruh, suara ganda bersautan
Janji-janji lama, kini cuma meme harian
Follower lenyap, tapi skandal masih tahan
Katanya zuhud, tapi invoice-nya panjang
Katanya suci, tapi anggaran tetap lancang
Ngomong di panggung soal iman
Padahal tiket surganya lewat sponsor kawan
MasyaaAllah — limited edition keimanan.
Lihatlah, wahai panggung yang muram
Banyak aktor lahir dari sorot kamera malam
Mereka berdoa di depan mic terbakar
Tapi lupa, doa itu bukan konten pasar
Sendiri… di tahta semu…
Dikelilingi gema palsu…
Oh Jainudin…
Raja tanpa arah…
Langit mencatat, bumi pun pasrah.
Tirai tertutup, naskah pun hangus,
Kitab sandiwara, babmu usai terus…
Aptahiya… waap salam…
Semua drama kembali ke senyap…
Nama tinggal gema…
Dan Jainudin jadi legenda di folder dosa.