
在手机上保存,获得更好体验
Adzan mengandungmu lalu tumpah parau kena telinga
Tumbuh cantik pikat suara serap aroma kau memesona
Berjalan memangku semua senang pandang kamu
Tawamu bikin daun-daun cemburu.
Kamu senang menggambar ; Dinding rumah jadi kanvas.
Ayah pandai menjaga ; nyamuk jatuh sebelum sedot dada.
Ibu tidak senang marah ; ajari senyum sapa semua.
Adikmu cemburu ; benar cemburu, iri dia tak lebih cantik darimu.
Rumah renovasi – tukang tukang otot unjuk diri.
Itulah sepi dipetik darahmu. Rambutmu mati aduh.
Si Penjaga ayah luput tugasnya. Ibu marah-marah.
Adikmu hilang cemburunya. Duh senangnya.
Ganti rumah jauhkan kamu tinggal di kota.
Serah jabatan beri tugas paman. Itu lelaki.
Yang jatuh luput dari betis dan bau mata kaki.
Paksakan kamu kenal kejadian itu. Kejadian otot.
Mama tidak senang senyum ; ajari marah curiga semua
Papa pandai sedekah ; bangkitkan nyamuk sedot dada
Kamu senang sembunyi ; almari besi jadilah kamar.
Adikmu sayang ; benar sayang, peduli asih biji bunga matahari.
Liga super pendidikan tinggi sirkuit licin perlu hati-hati
Tiada lain yang direbut adalah kamu, nama dan rasa
Jadi warna para muda – lelaki wanita semua tentang cipta
Sembunyi parau lebah tak akan kemana
Habislah ia serap sari pati – lunglai sari pati.
Seperti balon terbang yang kehabisan nafas.
Semua gembira – itu rasa tiada dua tapi mudah
Merasa rugi telat merugi
Kini kau senang tak lagi
Berebut wajah sikat atasan
Kerjamu tidur sudahlah tidur
Duh sedihnya dikandung Adzan
Kamis sore lima belas tiga puluh.
02 Desember 2021 | Malang – B201
Tepis tangis peluk makam ayah | Ibnu Musa