
在手机上保存,获得更好体验
(Intro)
Tak tunduk, tak goyang, aku tenang...
Diam aku berbunyi bila malam datang...
(Verse 1)
Kau duduk atas, tapi tak rasa pijar,
Cakap macam raja, tapi hati banci getar.
Kami angkat, kau tunjuk arah,
Tapi bila ribut, terus kau hilang arah.
Main drama, skrip kau koyak,
Muka manis, tapi mulut berolak.
Kami kerja, kau selfie sorang,
Bila puji turun, nama kau sorang.
(Pre-Chorus)
Mulut manis, hati karat,
Spin cerita macam tikar lipat.
Perangai hanat, senyum tak segan,
Kau raja sandiwara atas deck berangan.
(Chorus)
Aku nampak semua, tapi aku diam,
Kau lukis luka, aku senyum dalam kelam.
Bila kau jatuh, jangan panggil nama,
Sebab bayang pun lari dari drama...
(Verse 2)
Log buku penuh nama kau,
Padahal semua kerja kami yang bawak.
Cakap besar, hati kecil,
Depan kamera hero, belakang gagal deal.
Kami baris, kau cabut dulu,
Kau lari laju bila kerja bertimbun satu.
Kami telan bara, kau minum santai,
Tapi time pujian, kau naik pentas sampai.
(Bridge)
Dia paling jauh dari pusaran dalam,
Tapi paling kuat sembang pasal tenggelam.
Tak pernah selam, tapi cakap macam dewa,
Realiti dia palsu, cuma bayang di kaca.
(Chorus)
Aku nampak semua, tapi aku diam,
Kau lukis luka, aku senyum dalam kelam.
Bila kau jatuh, jangan panggil nama,
Sebab bayang pun lari dari drama...
(Outro)
Bila topeng jatuh, jangan tanya siapa,
Langkah aku senyap, tapi tak pernah sia-sia.
Pangkah empat garis atas besi yang retak,
Ini bukan amaran – ini luka yang lekat.