Ada sedih menari sedih lagi di pohon beringin
Seperti ramuan jamur yang busuk di meja makan
Dulu dia nakal memanjat akar bergelantungan di beringin
Saat terjatuh dia berlari menangis sakit di kolong meja.
Anak tetangga berambut pendek suka berantem
Aku lelaki lariku kecut suka mengeluh
Saat ku terpukul anak tetangga laju ke depan
Cari sela jambak musuh pukul wajah tendang anu jungkal ke rumah
Dia senang pakai celana
Aku senang dia gembira
Selain jatuh dari atas beringin
Dia tak pernah lari menangis
Aku suka lariku kecut dengan mengeluh
Anak tetangga pasti datang saat ku aduh
Dia ajarkan cara tinju pukul wajah tendang anu
Tapi lelaki tidak boleh tendang anu
Kawan-kawan kadang senang goda dia
Kata mereka anak tetangga itu gorila
Suka memanjat. tak pandai urus rumah
Aku kesal tendang keras anu mereka
Aku sedih kembali sedih di bawah beringin
Menanti jamur yang busuk itu di atas meja
Dulu yang nakal jadi wanita jitu mulia
Mata cahaya tatapnya tajam yang dalam aku
Sekarang sedih jauh lebih sedih dari anu mereka
Bagai melati yang dilupa petik bunganya
Anak tetangga makin ranum makin merekah
Rambutnya panjang mata gelombang bibirnya merah
Tadi dia datang
Kasih kabar
Besok menikah.
Desember 22
Bunker 201 – Malang