Semua kata yang terucap,
hilang tertiup bersama angin,
Aku berlari, aku terjatuh,
dan waktu terus memudar,
namun hatiku tetap menolak menyerah.
Aku mencoba,
menyusun arti dari serpihan mimpi,
setiap langkah hanya bayang yang menghantui.
Kau bilang aku lemah,
kau bilang tak akan sampai,
namun darah di nadiku tetap jadi nyalaku.
Waktu berputar,
menelanku dalam pusaran,
mencoba menulis takdir
di kertas yang penuh sobekan.
Dan aku berteriak,
tapi suaraku tenggelam,
hanya gema yang kembali
dari dinding yang tak peduli.
Dan semua terasa hampa,
seperti jejak di pasir yang hilang.
Ku genggam harapan rapuh,
meski dunia terus menghakimi.
Pada akhirnya ku tetap di sini,
menyanyikan luka yang tak terbagi.
Meski runtuh semua janji,
aku bertahan, aku berdiri.
Tak ada yang tahu bagaimana rasanya,
berjalan di lorong gelap tanpa cahaya.
Setiap janji hanyalah debu,
yang terbang hilang bersama waktu.
Aku ingin bicara,
tapi suara ini retak,
aku ingin percaya,
tapi dunia selalu menolak.
Setiap tetes air mata
jadi tinta dalam nadiku,
menulis kisah hancur
yang tak pernah kau tahu.
Aku mendengar bisikan
dari bayangan di kepalaku,
“Berhenti saja, menyerah,
tak ada arti langkahmu.”
Namun api kecil di dadaku
tetap melawan dinginnya waktu.
Dan semua terasa hampa,
seperti jejak di pasir yang hilang.
Ku genggam harapan rapuh,
meski dunia terus menghakimi.
Pada akhirnya ku tetap di sini,
menyanyikan luka yang tak terbagi.
Meski runtuh semua janji,
aku bertahan, aku berdiri.
Aku takkan runtuh, meski terbelah,
Aku takkan hilang, meski terluka,
Semua suara yang mencoba menenggelamkan,
akan jadi lagu yang ku teriakkan!
Pada akhirnya ku tetap di sini,
menyanyikan luka yang tak terbagi.
Meski runtuh semua janji,
aku bertahan, aku berdiri.
Pada akhirnya ku tetap bernyanyi,
dalam gelap ku temukan arti.
Meski runtuh semua janji,
ku takkan mati, ku takkan mati.
Semua kata yang terucap…
hilang tertiup bersama angin…
tapi suaraku…
akan tetap hidup.