Verse 1
Manakala hatimu jadi bandara,
Melepas siapa saja, tak pernah benar-benar menahan siapa.
Aku mendarat tanpa jadwal,
Lalu disuruh pergi dengan senyum paling formal.
Verse 2
Manakala hatiku jadi hujan di musim libur,
Turun di saat semua ingin langit cerah dan akur.
Kupikir aku dibutuhkan,
Ternyata hanya gangguan yang ditunggu reda perlahan.
Chorus
Tuntun aku pulang,
Bukan karena kau rindu, tapi sekadar tak ada yang lebih mudah ditemukan.
Bukan karena aku pantas ditunggu,
Tapi karena sunyimu mulai terlalu bising untuk dipeluk.
Verse 3
Manakala hatimu jadi peta,
Yang menunjuk arah tapi tak pernah tahu di mana letaknya.
Aku mengikuti garis-garis retak,
Berharap ujungnya bukan sekadar jebakan nostalgia.
Verse 4
Manakala hatiku jadi kapal rusak,
Menepi pun ditolak, melaju pun oleng tanpa arah.
Tapi namamu seperti pelabuhan,
Yang kutuju meski tak pernah ingin menampung.
Chorus
Tuntun aku pulang,
Lewat jalan yang kau pasang rambu-rambu samar.
Kalau tak ingin kutiba,
Kenapa kau biarkan lampunya tetap menyala?
Outro
Pulang tak harus sampai, kan?
Kadang cukup tahu siapa yang pura-pura menanti di seberang.
Dan jika lelahmu masih butuh alasan,
Pilih aku… sebagai kesalahan terakhir yang kau ulang.