Om…
Di antara kabut gunung dan bisik laut
Nama itu dipanggil angin
Daruwijaya…
Ia lahir saat malam bertapa
Di rahim bumi, di doa para leluhur
Darahnya tanah, napasnya angin
Langkahnya dituntun bayang masa silam
Hutan mengenal tapak kakinya
Batu dan sungai menyimpan sumpah
Ia bukan datang membawa mahkota
Ia datang membawa tanda
Saat wahyu turun di sunyi
Langit membuka, bumi bersaksi
Daruwijaya!
Raja yang bangkit dari batin
Api suci di pusar jiwa
Menjaga titah semesta
Daruwijaya!
Bukan penguasa, tapi penyeimbang
Antara langit dan manusia
Antara kuasa dan welas asih
Ia dengar kidung tua
Dari gamelan yang tak terlihat
Dari genderang perang purba
Yang dipukul oleh waktu
Di puncak gunung ia bersumpah
Di tepi laut ia melebur ego
Pedangnya bernama Kesunyian
Perisainya bernama Rasa
Saat nafsu menuntut tahta
Ia memilih laku dan tapa
Daruwijaya!
Putra fajar Nusantara
Darah raja, jiwa resi
Menyatu dalam satu diri
Daruwijaya!
Jika zaman kembali gelap
Namamu jadi obor jalan
Bagi yang tersesat di malam
Jika tubuhnya kembali tanah
Jiwanya jadi angin penjaga
Raja sejati tak bersemayam di istana
Ia hidup di nurani manusia
Daruwijaya!
Dari sunyi menuju cahaya
Takdir tunduk pada laku
Bukan pada teriakan kuasa
Daruwijaya!
Selama doa masih dibisikkan
Selama bumi dijaga manusia
Engkau hidup…
Dalam ruh Nusantara
Bukan namanya yang diagungkan
Tapi keseimbangan yang ia jaga
Om…
Daruwijaya…